KEPADA FIR’AUN MUSA DIPERINTAHKAN UNTUK LEMAH LEMBUT

Posted: 13/01/2012 in Uncategorized

Alangkah indahnya ajaran Islam dari Tuhan Yang Maha Indah. Jelas-jelas Fir’aun (wakil dari pemerintah yang zalim) itu sangat sombong. Tetapi nabi Musa dan Harun as masih diperintahkan untuk berdoa dan berkata lemah lembut kepadanya. Mengapa kita hari ini tidak berkata lemah lembut kepada sesama kita?
Al-Makmun, seorang khalifah dari salah satu khilafah islamiah, adalah salah seorang khalifah yang kurang disukai oleh rakyatnya. Banyak ulama dan orang sholeh yang memusuhinya. Bahkan sejarah mencatat beberapa noda hitam dalam masa pemerintahannya. Sering kali mimbar-mimbar agama dimanfaatkan oleh para mubaligh untuk menyerukan masyarakat agar lebih bersungguh-sungguh melawan kemungkaran dan kezaliman penguasa. Namun sejauh itu, tidak ada yang berani menunjuk hidung dan dengan terang-terangan mencacinya.

Pada suatu hari Jumat, Khalifah Al-Makmun mengunjungi Bashrah. Ia ikut sholat di masjid agung kota kelahiran Imam Hasan Al-Bashri itu. Tiba-tiba sang khatib dalam khutbahnya menyebut namanya dengan nada tidak sopan dan membongkar serta menuduh keculasan-keculasannya secara kasar. Khalifah mengelus dada. Siapa tahu khatib itu cuma terbawa emosi akibat hawa panas yang sedang menyengat seluruh negeri.

Kali yang lain, ketika Khalifah menjalankan sholat berjamaah di mesjid yang berbeda, kebetulan khatibnya sama, seperti pada waktu ia sholat jumat di masjid agung Bashrah. Dan khatib itu mengulangi kembali makian serta kutukan-kutukannya kepada Al-makmun. Di antaranya sang khatib berdoa, “Mudah-mudahan Khalifah yang sewenang-wenang ini dilaknat oleh Allah s.w.t.” Maka habislah kesabaran Al-Makmun. Khatib itu diperintahkan untuk datang menghadap ke istana. Setengah dipaksa, khatib tersebut akhirnya mau juga mengunjungi Khalifah.
Kepada khatib yang keras itu Al-Makmun bertanya, “Kira-kira, manakah yang lebih baik, Tuan atau Nabi Musa?” Tanpa berfikir lagi, sang khatib yang galak itu menjawab, “Sudah tentu Nabi Musa lebih baik daripada saya. Tuan pun tahu bukan?!”. “Ya,ya. Saya fikir begitu,” sahut Al-Makmun. “Lalu, siapakah menurut pendapat Tuan yang lebih jahat, saya atau Firaun?” Disini sang khatib terperangah. Ia sudah bisa menduga kemana tujuan pertanyaan itu. Namun ia harus menjawab sejujurnya. Maka ia lantas berkata, “Pada hemat saya, Firaun masih lebih jahat daripada Tuan.”
Al-Makmun kemudian menegur, “Maaf, Tuan. Seingat saya, bagaimana pun jahatnya Firaun, sampai ia mengaku tuhan, dan bertindak kejam kepada kaum Nabi Musa, malah telah merebus hidup-hidup dayang putrinya yang bernama Masyitah beserta anaknya, pun Nabi Musa diperintahkan Allah untuk berkata dengan lemah lembut kepada Firaun yang zalim itu. Tolong dapatkah Tuan membacakan buat saya, perintah Allah yang dimuat dalam Al-Quran tersebut?”
Tergagap-gagap sang khatib membacakan surah Thoha ayat 44 yang artinya: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya(Fir`aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia menjadi ingat atau takut”.
Khalifah Al-Makmun tersenyum sebelum dengan tegas bertitah,”Karena itu, pantas bukan kalau saya meminta Tuan untuk menegur saya dengan bahasa yang lebih sopan dan sikap yang lebih bertata krama? Lantaran Tuan tidak sebaik Nabi Musa dan saya tidak sejahat Firaun? Ataukah barangkali Tuan mempunya Al-Quran lain yang memuat ayat 44 surat Thaha itu?”
Khatib tersebut tidak bisa menjawab sepatah kata pun. Hatinya tidak puas, rasanya masih ingin mengutuk Al-Makmun dengan kalimat yang lebih garang dan keras. Akan tetapi, bagaimanapun pahitnya, perintah Allah harus dipatuhi, ayat Al-Quran harus dipegang. Karenanya, sejak saat itu ia berkhutbah dengan nada yang berubah dan isi yang lebih menyentuh. Terbukti, dengan cara itu, makin banyak masyarakat yang terpikat dengan pengajaran-pengajarannya, lalu berbalik langkah dari dunia hitam yang penuh maksiat, untuk bertaubat melaksanakan ibadah yang lebih taat.
Melalui mimbar-mimbarnya, ia lantang mengutip surah An-Nahl ayat 125 yang berbunyi :”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.
Kenyataanya, sering kali manusia dapat menggali mutiara dari lumpur laut yang hitam legam. Maka pantaslah apabila Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah berpesan, “Lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan melihat siapa yang mengatakan.”

Dari tausyiah275 Kisah hikmah-20061014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s